Berikutini adalah sepenggal kisah-kisah menakjubkan tentang kesungguhan para Ulama dalam menuntut ilmu. Semoga bisa menjadi pelajaran dan teladan bagi kita untuk bersemangat menjalankan aktifitas ilmiyyah : menempuh perjalanan menghadiri majelis ilmu, mencatat, murojaah (mengingat kembali pelajaran yang sudah didapat), membaca buku-buku KISAHUNTUK PENCARI ILMU. Ada seorang santri dari Indonesia menuntut ilmu di Rubath Tarim pada zaman Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri. Setelah di sana 4 tah un, santri itu minta pulang. Dia pamit minta izin pulang kepada Habib Abdullah. “Habib, saya mau pulang saja.” “Lho, kenapa?” tanya beliau. “Bebal otak saya ini. HikmahKISAH – KISAH PENUNTUT ILMU (2) MENGULANG-ULANG MEMBACA SUATU KITAB HINGGA BERKALI-KALI Al-Muzani berkata: Aku telah membaca Fast Money. Diantara rintangan dalam menuntut ilmu agama adalah kurangnya kesabaran serta ingin segera memetik hasilnya. Menuntut ilmu butuh ketekunan yang semangat agar tidak bosan dan bersiap diri menghadapi berbagai Syihab Az Zuhri rahimahullah berkata “Barang siapa yang mempelajari ilmu langsung sekaligus dalam jumlah yang banyak, maka kan pergi darinya ilmu yang banyak, dan ilmu-ilmu hanya dicari selama berhari-hari dan bermalam-malam” Riwayat Abdul Barr dalam Al Jami, I/431.Kisah-kisah indah para imam dan ulama di bawah ini semoga mengukuhkan semangat kaum muslimin untuk semangat menuntut ilmu agama. Kisah yang penuh antusias, pantang menyerah, dan sangat mengharukan yang semuanya berbuah manis. Abdullah bin Dawud berkata “Aku masuk kufah untuk mencari ilmu dan hanya memiliki satu dirham. Aku membelikannya 30 mud ful sejenis kacang lalu memakannya sambil menulis kitab Al Asyaj Abdullah bin Sa’id Al Kindiy setelah aku habis memakannya aku telah menulis 30 ribu hadits yang maqthu atau mursal.” Tadzkiratul Huffazh, II/768.Sungguh menakjubkan perjuangan dan kuatnya kesabaran mereka untuk mencari ilmu syar’i, menulisnya, dan mempelajarinya sehingga mereka menguasainya dengan baik. Semua butuh keikhlasan niat, bekal materi, semangat membara, dan juga fisik perlu ditempa agar tahan menghadapi berbagai rintangan saat mencari bin Masud berkata “Tidaklah turun satu ayat kecuali aku tahu tentang apa ayat itu diturunkan, jika aku mengetahui ada seseorang yang lebih tahu tentang kitab Allah maka aku akan menyiapkan unta dan perbekalanku untuk menjumpainya.” Rihlah li tholabil Hadits, Khatib Al Baghdadi, hlm. 65, Darul Kutub Al Ilmiyah.Senada dengan kisah Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu sahabat lain pun sangat bersemangat mengejar ilmu syar’i. Abu Darda radhiyallahu’anhu berkata “Seandainya saya mendapatkan satu ayat dari Al-Qur’an yang tidak saya pahami dan tidak ada seorangpun yang bisa mengajarkannya kecuali orang yang berada di Barkul Ghamad yang jaraknya 5 malam perjalanan dari Mekah, niscaya aku akan menjumpainya.” Al Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, 9/100Zaman dahulu dengan keterbatasan sarana transportasi, sulitnya medan, dan jauhnya perjalanan bukan penghalang untuk rihlah mencari ilmu syar’i. Terlebih lagi saat ini, dengan segala fasilitas yang kian canggih dan transportasi mudah harusnya kaum muslimin lebih bersemangat mencarinya dan apapun usahakan untuk meluangkan waktu belajar agama. Bisa lewat online atau offline sesuai kemampuan fisik dan waktu yang kita miliki. Kuncinya semua butuh kesabaran pula seorang penuntut ilmu hendaknya sabar dan bijak dalam berinteraksi dengan gurunya. Karena mereka juga manusia biasa mungkin terkadang salah ataupun sikapnya kurang tepat sehingga hubungan dengannya kurang harmonis. Janganlah kendor semangatnya dan berupaya lebih lapang dada. Allah Ta’ala berfirmanوَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُۥ عَن ذِكْرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمْرُهُۥ فُرُطًا“Dan bersabarlah engkau Muhammad bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.” QS. Al Kahfi 28.Terkadang sikap keras guru itu bertujuan mendidik dan menempa mental murid atau menguji sejauh mana kecintaannya pada ilmu. Imam Syafi’i rahimahullah berkataإِصْبر على مُرِّ الجَفَا مِن مُعلِمٍّ فَإِنَّ رَسُوبَ العلمِ في نَفَرِتِهِ“Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya”.Semoga dengan uraian di atas Allah Ta’ala memberikan kesadaran kepada para penuntut ilmu atau orang yang mencintai ilmu syar’i untuk selalu tekun bergelut dengan agama. Dengan mengingat-ingat pahala yang besar, atau ilmu itu jalan menuju surga, dan berbagai keutamaan lainnya ketika menuntut ilmu syar’i niscaya semua rintangan akan terasa ringan.***Penulis Isruwanti Ummu NashifaReferensi 1. Majalah As Sunnah, edisi 08/ Tahun XXV/ 1443 H 2. Majalah As Sunnah, edisi 09/ Tahun XXV/ 1443 H Dari 'Urwah bahwa Aisyah telah mengabarkan kepadanya bahwa dalam shalatnya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sering berdoa ALLAHUMMA INNI 'AUUDZUBIKA MIN 'ADZAABIL QABRI WA A'UUDZUBIKA MIN FITNATIL MASIIHID DAJJAL WA A'UUDZUBIKA MIN FITNATIL MAHYA WAL MAMAATI, ALLAHUMMA INNI A'UUDZUBIKA MINAL MA'TSMI WAL MAGHRAMI Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, aku berlindung dari fitnah Dajjal, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian, ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan lilitan hutang. Maka seseorang bertanya kepada beliau, Alangkah seringnya anda memohon perlindungan diri dari lilitan hutang. Beliau bersabda Sesungguhnya apabila seseorang sudah sering berhutang, maka dia akan berbicara dan berbohong, dan apabila berjanji, maka dia akan mengingkari.HR. Sunan Abu Dawud No. 746 Menuntut ilmu merupakan salah satu bentuk ibadah yang dalam dimensi keislaman menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban bagi umat Islam. Hal ini dinukil dari hadits Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan mengenai kewajiban menuntut ilmu. Bahwa setiap muslim dan muslimat itu wajib menuntut ilmu. Dalam hadist lain pula. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa kewajiban menuntut ilmu ditanggung oleh semua orang. Yang dimulai sejak dari terbaring di ayunan ibu kita hingga beristirahat di liang lahat. Kedua hadist ini yang menandai urgensi ilmu. Begitu tinggi sekali urgensi ilmu bagi kehidupan sehingga tak jarang banyak sekali orang yang mendedikasikan penuh hidupnya untuk menuntut ilmu. Salah satu kisah seorang penuntut ilmu yang bisa kita teladani adalah kisah Nabi Musa AS. Yang berguru kepada Nabi Khidir AS. Dalam kandungan surat Al – Kahfi ayat 66, Imam Fakhruddin Ar – Razi menafsirkannya dalam kitab Tafsir Al – Fakhru ar – Razi. Dalam kitab ini membahas mengenai hikmah kisah Nabi Musa AS. Tatkala beliau menjadi seorang penuntut ilmu yang berguru kepada beliau Nabi Khidir AS. Dalam kisahnya Nabi Musa sangat mendedikasikan tinggi kehidupannya saat itu untuk menggali keilmuan yang sedalam –dalamnya dari Nabi Khidir AS. Sehingga dari dedikasi tinggi tersebut memunculkan hikmah yang sangat besar yang bisa kita teladani juga sebagai seorang penuntut ilmu. Hikmah yang pertama adalah sikap Nabi Musa AS yang mengabdi dan bersikap tawadhu kepada gurunya yakni Nabi Khidhir. Pengabdian merupakan feedback atau respon terbaik yang diharapkan oleh semua guru terhadap murid yang diajarinya. Dan kita perlu menerapkannya sebagai seorang penuntut ilmu. Tak hanya itu, dalam proses menuntut ilmu, sikap tawadhu terhadap guru juga penting untuk menunjang keberkahan ilmu yang kita peroleh. Yang kedua adalah sikap merasa tidak boleh membantah guru dan apa yang dilakukan guru. Hal ini erat kaitannya dengan bentuk pengabdian. Di mana kita harus taat terhadap apa yang dilakukan dan diucapkan guru. Sebagai murid harus bisa mengambil ilmu juga tak hanya dari apa yang dijelaskan guru, namun juga tindak – tanduknya. Karena guru itu tak hanya digugu namun juga ditiru. Hikmah berikutya adalah ketika seorang murid belajar maka niat harus ditanamkan betul dalam diri hanya untuk ilmu. Bukan yang lain. Tak jarang kita temui banyak orang mengabdikan dirinya tidak penuh untuk ilmu. Namun niatnya hanya agar mendapat derajat yang tinggi di masyarakat. Untuk hal inspiratif lainnya, silahkan follow Muslima. TCT Terkini

kisah seorang penuntut ilmu